Hallo everyone,
hari ne, Isnin,
sya jumpa dengan orang2 yang slama ini ingin skali sia jumpa...Sangat gembira juga la,,..walaupun sia diam2 jak...sia malu begia...Sia jumpa c Fr. Bruno Yasun, Fr, Julius, Fr. Rudolf, Sr, Mag, Sr. Terry, Sr Dora..dan banyak lagi la...memang sia nda sangka , ble satu meja miting sama diorang...Thanks..Sia kontek kamu nanti kio..hehe
Tuhan, saya berdosa, biar la kau menjadi saksi dosa-dosa ku, Biar la saya berani untuk mengaku segala dosa-dosa yang telah saya lakukan.
Sunday, July 27, 2008
Tuesday, July 22, 2008
i'm crying Jesus..
i'll come to serve you Jesus. Banyak pengalaman lalu mengajar diri, biar pun apa terjadi, gereja tetap dihati. Yesus tetap menjadi sahabat baik ku,.Sekarang, ku benar2 memerlukan petunjuk mu....untuk menguat kan diri ini sepertimana kuatnya diriku dahulu.....
Friday, July 18, 2008
Padre Pio's incorrupt body!
About Padre Pio
Padre Pio, a humble Capuchin priest from San Giovanni Rotondo, Italy , was blessed by God in many wonderful and mysterious ways. The most dramatic was the stigmata. Padre Pio bore the wounds of Christ for fifty years!
Among his other gifts were perfume, bilocation, prophecy, conversion, reading of souls, and miraculous cures. People are still being cured through his intercession in ways that cannot be explained by medicine or science.
More important, if less spectacular, are the spiritual healings that take place in all parts of the world! Padre Pio is a powerful intercessor!!





A Prayer to Padre Pio
Beloved Padre Pio, today I come to add my prayer to the thousands of prayers offered to you every day by those who love and venerate you in Jesus' name. They ask for cures and healings, earthly and spiritual blessings, and peace for body and mind. And because of your friendship with the Lord, he heals those you ask to be healed, and forgives those you ask be forgiven in Jesus' name. Through your visible wounds of the Crucified Jesus, which you bore for 50 years, you were chosen in our time to glorify the crucified Jesus. Because the Cross has been replaced by other symbols, please help us bring back the veneration of the wounds of Jesus Christ, for we acknowledge His Precious Blood as true a sign of salvation, cleansing and purification.
As we lovingly recall the wounds that pierced your hands, feet and side, like beloved Jesus Christ, we not only remember the blood He shed as you also shed in pain, along with your smile, and the invisible halo of sweet smelling flowers that surrounded your presence, certainly the Scent of The Lord, symbolic as the perfume of sanctity.
Padre Pio, may the healings of the sick become the testimony that the Lord has invited you to join the holy company of Saints. In your kindness, please help me with my own special request: (mention here your petition, and make the sign of the Cross).
Bless me and my loved ones. In the name of the Father, the Son and the Holy Spirit. Amen.
In Memoriam J.S.
The following quotes of Padre Pio tell how he looked after and loved his spiritual family:
'I love my Spiritual Children as much as my own soul and even more.'
'Once I take a soul on, I also take on their entire family as my spiritual children.'
'To my Spiritual Children, my prayers for you will never be lacking.'
'If one of my spiritual children ever goes astray, I shall leave my flock and seek him out.'
Padre Pio, a humble Capuchin priest from San Giovanni Rotondo, Italy , was blessed by God in many wonderful and mysterious ways. The most dramatic was the stigmata. Padre Pio bore the wounds of Christ for fifty years!
Among his other gifts were perfume, bilocation, prophecy, conversion, reading of souls, and miraculous cures. People are still being cured through his intercession in ways that cannot be explained by medicine or science.
More important, if less spectacular, are the spiritual healings that take place in all parts of the world! Padre Pio is a powerful intercessor!!





A Prayer to Padre Pio
Beloved Padre Pio, today I come to add my prayer to the thousands of prayers offered to you every day by those who love and venerate you in Jesus' name. They ask for cures and healings, earthly and spiritual blessings, and peace for body and mind. And because of your friendship with the Lord, he heals those you ask to be healed, and forgives those you ask be forgiven in Jesus' name. Through your visible wounds of the Crucified Jesus, which you bore for 50 years, you were chosen in our time to glorify the crucified Jesus. Because the Cross has been replaced by other symbols, please help us bring back the veneration of the wounds of Jesus Christ, for we acknowledge His Precious Blood as true a sign of salvation, cleansing and purification.
As we lovingly recall the wounds that pierced your hands, feet and side, like beloved Jesus Christ, we not only remember the blood He shed as you also shed in pain, along with your smile, and the invisible halo of sweet smelling flowers that surrounded your presence, certainly the Scent of The Lord, symbolic as the perfume of sanctity.
Padre Pio, may the healings of the sick become the testimony that the Lord has invited you to join the holy company of Saints. In your kindness, please help me with my own special request: (mention here your petition, and make the sign of the Cross).
Bless me and my loved ones. In the name of the Father, the Son and the Holy Spirit. Amen.
In Memoriam J.S.
The following quotes of Padre Pio tell how he looked after and loved his spiritual family:
'I love my Spiritual Children as much as my own soul and even more.'
'Once I take a soul on, I also take on their entire family as my spiritual children.'
'To my Spiritual Children, my prayers for you will never be lacking.'
'If one of my spiritual children ever goes astray, I shall leave my flock and seek him out.'
Monday, July 14, 2008
Pengakuan Iman Athanasius
Pengakuan iman ini diperkirakan ditulis pada akhir abad ke lima atau permulaan abad ke enam. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis pengakuan iman ini. Diberi nama Athanasius sangat mungkin karena isi pengakuan iman ini mencerminkan ajaran seorang bapak Gereja bernama Athanasius (296-373), yaitu Bishop di Alexandria, yang sangat menekankan pada Ketritunggalan Allah dan Keilahian Yesus Kristus. Dalam konsili di Nicea (325), Athanasius merupakan lawan yang mematahkan argumentasi Arius (lihat pengakuan iman Nicea). Itulah sebabnya jikalau kita amati isi pengakuan iman Athanasius, secara garis besar terbagi ke dalam dua garis besar, yaitu bagian pertama yang merupakan kesimpulan mendasar tentang doktrin Tritunggal, dan bagian kedua tentang dua sifat Yesus Kristus. Barangkali ini adalah pengakuan iman yang paling keras karena dalam pernyataan terakhirnya dikatakan bahwa orang yang tidak memiliki iman seperti yang tertuang dalam pengakuan iman Athanasius, sama saja dengan tidak diselamatkan!
Berikut isi Pengakuan Iman Athanasius:
1. Barangsiapa hendak diselamatkan, maka ia harus memiliki iman yang am;
2. Yaitu iman yang jikakalau tidak dijaga kemurniaannya, pastilah orang tersebut binasa.
3. Dan iman yang am itu adalah ini: bahwa kita menyembah Allah yang Esa di dalam Ketigaan, dan Ketigaan di dalam Keesaan;
4. Tanpa percampuran pribadi maupun pemisahan substansi.
5. Karena hanya ada satu pribadi Bapa, satu Anak, dan satu Roh Kudus.
6. Tetapi Keilahian Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah esa, demikian pula kemuliaan dan keagungannya.
7. Sebagaimana Bapa, demikian pula Anak, dan demikian pula Roh Kudus.
8. Bapa tidak dicipta, Anak tidak dicipta, dan Roh Kudus tidak dicipta.
9. Bapa tak dapat dipahami, Anak tak dapat dipahami, dan Roh Kudus tak dapat dipahami.
10. Bapa kekal, Anak kekal, dan Roh Kudus kekal.
11. Akan tetapi bukan tiga yang kekal, melainkan yang kekal itu esa.
12. Demikian pula bukan tiga yang tak diciptakan atau tak dapat dipahami, melainkan esa yang tak diciptakan dan esa pula yang tak dapat dipahami.
13. Karena itu, demikian pula Bapa Mahakuasa, Anak Mahakuasa, dan Roh Kudus Mahakuasa.
14. Akan tetapi bukan tiga yang Mahakuasa, melainkan esa.
15. Juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah;
16. Namun bukan tiga Allah, melainkan Allah yang Esa. Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan;
18. Namun bukan tiga Tuhan, melainkan Tuhan yang esa.
19. Karena itu sebagaimana kita diwajibkan untuk mengakui ketiga Pribadi pada diri-Nya sendiri sebagai Allah dan Tuhan;
20. Demikian pula kita dilarang untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau tiga Tuhan.
21. Allah Bapa tidak dibuat, tidak diciptakan, dan tidak dilahirkan.
22. Allah Anak adalah dari Allah Bapa saja; tidak dibuat, tidak diciptakan, tetapi dilahirkan.
23. Allah Roh Kudus adalah dari Bapa dan Anak; tidak dibuat, tidak diciptakan, tidak dilahirkan, melainkan "keluar dari."
24. Maka hanya ada satu Bapa, bukan tiga Bapa; satu Anak, bukan tiga Anak; satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.
25. Dan di dalam Ketigaan tersebut, tidak ada yang lebih dulu atau sebelum .
26. Melainkan ketiga Pribadi itu sama kekal dan sama esensinya.
27. Sebab itu di dalam segala sesuatu, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Keesaan dalam ketigaan dan Ketigaan dalam Keesaan harus disembah.
28. Karena itu setiap orang yang mau diselamatkan harus mempercayai Tritunggal.
29. Lebih lanjut, penting bagi keselamatan adalah iman kepada inkarnasi Tuhan kita Yesus Kristus.
30. Iman yang benar berarti kita percaya dan mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Anak Allah, adalah Allah dan manusia;
31. Dalam Keallahan-Nya sehakekat dengan Bapa, dilahirkan dalam kekekalan; dan dalam kemanusiaan-Nya sama dengan semua orang di dunia;
32. Allah sepenuhnya dan manusia sepenuhnya, baik jiwa maupun tubuh.
33. Sejajar dengan Bapa dalam Keilahian-Nya, dan lebih rendah daripada Bapa di dalam kemanusiaan-Nya;
34. Yang walaupun Ia adalah Allah dan manusia, namun Ia bukan dua, melainkan satu Kristus;
35. Satu, bukan karena berubah dari Allah menjadi bersifat daging, melainkan karena mengenakan rupa manusia pada Keilahian-Nya;
36. Satu secara bersama-sama, bukan oleh percampuran substansi, melainkan kesatuan dalam pribadi.
37. Karena sebagaimana satu tubuh dan jiwa adalah satu orang, demikian pula Allah dan manusia adalah satu Kristus;
38. Yang telah menderita untuk keselamatan kita, turun ke dalam kerajaan maut, bangkit pula pada hari ketiga dari kematian;
39. Ia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa;
40. Dari sana Ia akan datang untuk menghakimi yang hidup dan yang mati.
41. Yang mana pada saat kedatangan-Nya yang kedua, semua orang akan hidup dengan tubuh yang baru;
42. Dan semua orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
43. Dan mereka yang telah melakukan kehendak-Nya akan memperoleh hidup yang kekal, sedangkan mereka yang melakukan kejahatan akan masuk ke dalam api yang kekal.
44. Inilah iman yang am; tanpa orang memiliki iman ini dengan setia, ia tidak akan dapat diselamatkan.
Berikut isi Pengakuan Iman Athanasius:
1. Barangsiapa hendak diselamatkan, maka ia harus memiliki iman yang am;
2. Yaitu iman yang jikakalau tidak dijaga kemurniaannya, pastilah orang tersebut binasa.
3. Dan iman yang am itu adalah ini: bahwa kita menyembah Allah yang Esa di dalam Ketigaan, dan Ketigaan di dalam Keesaan;
4. Tanpa percampuran pribadi maupun pemisahan substansi.
5. Karena hanya ada satu pribadi Bapa, satu Anak, dan satu Roh Kudus.
6. Tetapi Keilahian Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah esa, demikian pula kemuliaan dan keagungannya.
7. Sebagaimana Bapa, demikian pula Anak, dan demikian pula Roh Kudus.
8. Bapa tidak dicipta, Anak tidak dicipta, dan Roh Kudus tidak dicipta.
9. Bapa tak dapat dipahami, Anak tak dapat dipahami, dan Roh Kudus tak dapat dipahami.
10. Bapa kekal, Anak kekal, dan Roh Kudus kekal.
11. Akan tetapi bukan tiga yang kekal, melainkan yang kekal itu esa.
12. Demikian pula bukan tiga yang tak diciptakan atau tak dapat dipahami, melainkan esa yang tak diciptakan dan esa pula yang tak dapat dipahami.
13. Karena itu, demikian pula Bapa Mahakuasa, Anak Mahakuasa, dan Roh Kudus Mahakuasa.
14. Akan tetapi bukan tiga yang Mahakuasa, melainkan esa.
15. Juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah;
16. Namun bukan tiga Allah, melainkan Allah yang Esa. Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan;
18. Namun bukan tiga Tuhan, melainkan Tuhan yang esa.
19. Karena itu sebagaimana kita diwajibkan untuk mengakui ketiga Pribadi pada diri-Nya sendiri sebagai Allah dan Tuhan;
20. Demikian pula kita dilarang untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau tiga Tuhan.
21. Allah Bapa tidak dibuat, tidak diciptakan, dan tidak dilahirkan.
22. Allah Anak adalah dari Allah Bapa saja; tidak dibuat, tidak diciptakan, tetapi dilahirkan.
23. Allah Roh Kudus adalah dari Bapa dan Anak; tidak dibuat, tidak diciptakan, tidak dilahirkan, melainkan "keluar dari."
24. Maka hanya ada satu Bapa, bukan tiga Bapa; satu Anak, bukan tiga Anak; satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.
25. Dan di dalam Ketigaan tersebut, tidak ada yang lebih dulu atau sebelum .
26. Melainkan ketiga Pribadi itu sama kekal dan sama esensinya.
27. Sebab itu di dalam segala sesuatu, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Keesaan dalam ketigaan dan Ketigaan dalam Keesaan harus disembah.
28. Karena itu setiap orang yang mau diselamatkan harus mempercayai Tritunggal.
29. Lebih lanjut, penting bagi keselamatan adalah iman kepada inkarnasi Tuhan kita Yesus Kristus.
30. Iman yang benar berarti kita percaya dan mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Anak Allah, adalah Allah dan manusia;
31. Dalam Keallahan-Nya sehakekat dengan Bapa, dilahirkan dalam kekekalan; dan dalam kemanusiaan-Nya sama dengan semua orang di dunia;
32. Allah sepenuhnya dan manusia sepenuhnya, baik jiwa maupun tubuh.
33. Sejajar dengan Bapa dalam Keilahian-Nya, dan lebih rendah daripada Bapa di dalam kemanusiaan-Nya;
34. Yang walaupun Ia adalah Allah dan manusia, namun Ia bukan dua, melainkan satu Kristus;
35. Satu, bukan karena berubah dari Allah menjadi bersifat daging, melainkan karena mengenakan rupa manusia pada Keilahian-Nya;
36. Satu secara bersama-sama, bukan oleh percampuran substansi, melainkan kesatuan dalam pribadi.
37. Karena sebagaimana satu tubuh dan jiwa adalah satu orang, demikian pula Allah dan manusia adalah satu Kristus;
38. Yang telah menderita untuk keselamatan kita, turun ke dalam kerajaan maut, bangkit pula pada hari ketiga dari kematian;
39. Ia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa;
40. Dari sana Ia akan datang untuk menghakimi yang hidup dan yang mati.
41. Yang mana pada saat kedatangan-Nya yang kedua, semua orang akan hidup dengan tubuh yang baru;
42. Dan semua orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
43. Dan mereka yang telah melakukan kehendak-Nya akan memperoleh hidup yang kekal, sedangkan mereka yang melakukan kejahatan akan masuk ke dalam api yang kekal.
44. Inilah iman yang am; tanpa orang memiliki iman ini dengan setia, ia tidak akan dapat diselamatkan.
The True Image of Our Lord Jesus Christ
The True Image of Our Lord Jesus Christ –
Ketika saya sedang berziarah ke Tanah Suci pada pertengahan bulan Oktober 1982, saya banyak memotret dengan kamera instamatik 110.
Ketika saya pulang dan sesudah foto-foto itu dicuci dan dicetak, saya melihat foto Yesus ini diantara foto-foto lain. Mula-mula saya mengira bahwa pelayan toko keliru memberikan foto-foto orang lain kepada saya. Saya berkata kepada suami saya bahwa saya tidak merasa memotret gambar seperti itu. Saya juga tidak ingat bahwa saya pernah melihat gambar seperti itu. Kami berdua meneliti klisenya dan ternyata gambar itu memang ada dalam klise foto-foto saya. Saya bingung sekali, terutama karena saya tidak ingat dimana saya telah memotret gambar itu. Karena itu, saya menunjukkannya kepada yang memimpin rombongan kami. Ia berkata bahwa beliau sudah pergi ke Tanah Suci berkali-kali, tetapi tidak pernah melihat gambar itu disana.
Kemudian gambar itu saya tunjukkan kepada seseorang di daerah kami yang belajar dan menjelajahi Tanah Suci. Ia juga berkata bahwa ia tidak pernah melihat gambar seperti itu.
Kemudian agen tour yang mengadakan perjalanan itu membawa gambar tersebut ke New York. Mereka menunjukkannya kepada orang-orang yang mempelajari lukisan dan lukisan dinding. Mereka juga menyatakan bahwa gambar itu tidak ada di Tanah Suci.
Setelah melihat foto itu, saya kembali mengunjungi Tanah Suci sebanyak tiga kali. Setiap tahun saya mencari dan bertanya kepada siapa saja tentang gambar itu, dimana saya dapat mendapatkannya, tetapi tidak ada orang yang tahu.
Kisah foto ini mulai tersiar ketika beberapa teman saya tahu bahwa saya mencari, tetapi tidak mendapatkan jawabannya.
Suami saya dan saya sendiri merasakan keindahan foto itu dan kami ingin supaya orang lain ikut menikmati keindahannya. Kami mulai mencetaknya, membagikannya dan banyak hal yang indah terjadi, meskipun kami tidak menceritakan latar belakang kisah foto tersebut.
Saya enggan menceritakan kisahnya karena saya ingin agar foto itu diselidiki dengan lebih teliti. Bagi saya sendiri, hal ini membuat saya resah, terutama karena saya tidak ingat bahwa saya pernah memotret gambar seperti itu. Saya benar-benar tidak ingat, tetapi bagaimana mungkin orang dapat lupa kalau ia pernah memotret suatu gambar yang begitu indah. Foto ini sekarang sudah beredar di seluruh dunia dan Amerika Serikat. Saya berharap agar orang tidak tahu atau tertarik pada asal usul foto itu, tetapi hanya melihat keindahan dan keagungan Kristus. Ia adalah pancaran kasih, seperti yang terlihat dalam foto ini.
Keinginan kami ialah membawa Kristus pada setiap orang melalui foto ini. Dan seperti yang anda lihat sendiri, kisah di balik foto ini tidak begitu penting.
Saya tidak menyebut kisahnya sebagai suatu mukjizat, seperti yang dikatakan oleh beberapa orang yang saya tahu ialah bahwa foto ini telah membawa damai sejahtera kepada banyak orang meskipun mereka tidak tahu apa-apa tentang foto ini. Dan saya bersyukur kepada Allah karenanya.
Siapa yang memotret atau bagaimana terjadinya tidaklah penting. Yang penting ialah wajah Kristus.
Ketika saya sedang berziarah ke Tanah Suci pada pertengahan bulan Oktober 1982, saya banyak memotret dengan kamera instamatik 110.
Ketika saya pulang dan sesudah foto-foto itu dicuci dan dicetak, saya melihat foto Yesus ini diantara foto-foto lain. Mula-mula saya mengira bahwa pelayan toko keliru memberikan foto-foto orang lain kepada saya. Saya berkata kepada suami saya bahwa saya tidak merasa memotret gambar seperti itu. Saya juga tidak ingat bahwa saya pernah melihat gambar seperti itu. Kami berdua meneliti klisenya dan ternyata gambar itu memang ada dalam klise foto-foto saya. Saya bingung sekali, terutama karena saya tidak ingat dimana saya telah memotret gambar itu. Karena itu, saya menunjukkannya kepada yang memimpin rombongan kami. Ia berkata bahwa beliau sudah pergi ke Tanah Suci berkali-kali, tetapi tidak pernah melihat gambar itu disana.
Kemudian gambar itu saya tunjukkan kepada seseorang di daerah kami yang belajar dan menjelajahi Tanah Suci. Ia juga berkata bahwa ia tidak pernah melihat gambar seperti itu.
Kemudian agen tour yang mengadakan perjalanan itu membawa gambar tersebut ke New York. Mereka menunjukkannya kepada orang-orang yang mempelajari lukisan dan lukisan dinding. Mereka juga menyatakan bahwa gambar itu tidak ada di Tanah Suci.
Setelah melihat foto itu, saya kembali mengunjungi Tanah Suci sebanyak tiga kali. Setiap tahun saya mencari dan bertanya kepada siapa saja tentang gambar itu, dimana saya dapat mendapatkannya, tetapi tidak ada orang yang tahu.
Kisah foto ini mulai tersiar ketika beberapa teman saya tahu bahwa saya mencari, tetapi tidak mendapatkan jawabannya.
Suami saya dan saya sendiri merasakan keindahan foto itu dan kami ingin supaya orang lain ikut menikmati keindahannya. Kami mulai mencetaknya, membagikannya dan banyak hal yang indah terjadi, meskipun kami tidak menceritakan latar belakang kisah foto tersebut.
Saya enggan menceritakan kisahnya karena saya ingin agar foto itu diselidiki dengan lebih teliti. Bagi saya sendiri, hal ini membuat saya resah, terutama karena saya tidak ingat bahwa saya pernah memotret gambar seperti itu. Saya benar-benar tidak ingat, tetapi bagaimana mungkin orang dapat lupa kalau ia pernah memotret suatu gambar yang begitu indah. Foto ini sekarang sudah beredar di seluruh dunia dan Amerika Serikat. Saya berharap agar orang tidak tahu atau tertarik pada asal usul foto itu, tetapi hanya melihat keindahan dan keagungan Kristus. Ia adalah pancaran kasih, seperti yang terlihat dalam foto ini.
Keinginan kami ialah membawa Kristus pada setiap orang melalui foto ini. Dan seperti yang anda lihat sendiri, kisah di balik foto ini tidak begitu penting.
Saya tidak menyebut kisahnya sebagai suatu mukjizat, seperti yang dikatakan oleh beberapa orang yang saya tahu ialah bahwa foto ini telah membawa damai sejahtera kepada banyak orang meskipun mereka tidak tahu apa-apa tentang foto ini. Dan saya bersyukur kepada Allah karenanya.
Siapa yang memotret atau bagaimana terjadinya tidaklah penting. Yang penting ialah wajah Kristus.
Subscribe to:
Posts (Atom)